The Center of All Knowledge

Senin, 15 Februari 2010

Studi Etnografi Batak

Orang Batak adalah sebutan yang diberikan kepada orang yang menurut pandangan mereka sendiri adalah orang Tapanuli. Suku bangsa Batak terdiri dari beberapa sub suku, yaitu Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Pakpak, Batak Toba, Batak Angkola dan Batak Mandailing. Suku bangsa Batak memiliki satu nenek moyang yang sama, yang disebut dengan si Raja Batak. Suku bangsa Tapanuli mendiami daerah pengunungan Sumatera Utara, mulai dari perbatasan Daerah Istimewa Aceh di utara sampai ke perbatasan dengan Riau dan Sumatera Barat di sebelah selatan. Ada juga orang Tapanuli yang mendiami tanah datar yang berada di antara daerah pengunungan dengan pantai Timur Sumatera Utara dan pantai barat Sumatera Utara. Semua wilayah yang digambarkan di atas dikenal dengan nama dataran tinggi Karo, Langkat Hulu, Deli Hulu, Serdang Hulu, Simalungun, Dairi, Toba, Humbang, Silindung, Angkola, dan Kabupaten Tapanuli Tengah. Tanah-tanah yang didiami suku bangsa Batak dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu tanah yang baik bagi pertanian dan tanah yang kurang subur bagi pertanian.
Sejak jaman dahulu, telah tersedia sarana jalan raya yang mencapai seluruh pelosok daerah orang Tapanuli, hal sangat mendukung terbukanya hubungan orang Tapanuli dengan dunia luar.
1) Bahasa, ibu yang digunakan suku bangsa Batak dalam percakapan sehari-hari adalah bahasa Batak. Ada beberapa dialek dalam bahasa Batak, yaitu; dialek Karo yang dipakai oleh orang Batak Karo, dialek Pakpak yang digunakan oleh orang Batak Pakpak, dialek Simalungun yang digunakan oleh orang Batak Simalungun, dialek Toba yang digunakan oleh orang Batak Toba, Angkola dan mandailing. Dialek yang sangat jauh perbedaannya adalah dialek Toba dengan dialek Karo. Bahasa Batak mengenal bahasa halus dan kasar, tetapi tidak serumit dan sebanyak dalam bahasa Jawa.
2) Sistem mata pencaharian, mata pencaharian orang Batak adalah bercocok tanam padi di sawah dengan irigasi. Selain itu di Karo, Simalungun dan Pakpak masih ditemukan juga bercocok tanam di ladang, yang dibuka hutan dengan cara menebang dan membakar pohon. Pada sistem bercocok tanam di ladang, hak ulayat tanah dipegang oleh huta. Warga huta boleh menggarap tanah itu seolah- olah tanahnya sendiri, tetapi tidak dapat menjual tanah itu tanpa persetujuan dari huta yang diputuskan dengan musyawarah. Pada saat ini, selain bertani, suku bangsa Batak juga sudah bermatapencaharian dengan menggeluti berbagai jenis pekerjaan, seperti perukangan, perdagangan, pegawai negeri dan pengrajin.
3) Sistem kekerabatan, perkawinan bagi suku bangsa Batak merupakan pranata yang bukan hanya mengikat seorang pria dan wanita tetapijuga mengikat keluarga pengantin pria dan keluarga pengantin wanita. Perkawinan ideal adalah perkawinan namarpariban, yaitu perkawinan antara seorang laki-laki dengan anak perempuan saudara laki-laki ibunya. Perkawinan yang sangat dipantungkan adalah perkawinan antar orang-orang satu marga. Kesatuan hidup kekerabatan terkecil pada orang Batak adalah keluarga inti monogami (saama, saripe, seamang, sepanganan, atau sada bapa, yang berarti sekeluarga atau satu bapak). Suku bangsa Batak juga mengenal kelompok kekerabatan satu satu nini atau saompu, didalamnya termasuk semua orang yang memiliki hubungan patriakal sampai 20 generasi jauhnya. Kelompok kekerabatan yang lebih besar lagi adalah marga, bisa berarti klen besar atas dasar prinsip patrilineal, contohnya Siahaan, Ginting, Siregar, dan sebabainya, bisa juga berarti gabungan dari beberapa marga, contohnya adalah lontung, Sumba, Borbor, dan sebagainya). Hubungan kekerabatan suku bangsa Batak diatur oleh ikatan adat yang disebut dengan dalihan na tolu (pokok yang tiga).
Terdiri dari dongan sabutuha (orang-orang bersaudara), hula-hula (kelompok lain dari pihak laki-laki yang menerima gadis untuk diperistri), boru (kelompok lain dari pihak perempuan yang memberikan anak gadisnya untuk diperistri). Hula-hula harus menyanyangi borunya, sebaliknya boru harus menghomati hula-hulanya. Dan sesama orang yang bersaudara harus saling mendukung dan membantu. Seiap orang Batak pasti mengalami ketiga kedudukan itu (boru, hula-hula atau dongantubu) secara bergantian sesuai dengan kedudukannya pada setiap upacara dan pesta adat.
4) Sistem kemasyarakatan, kesatuan wilayah administrasi suku bangsa Batak adalah desa yang mereka sebut dengan nama huta, kuta, lumban, sosor, bius, pertahian, urung dan pertumpukan. Huta merupakan kesatuan teritorial yang dihuni oleh keluarga yang berasal dari satu klen (marga). Awalnya setiap huta dikelilingi oleh suatu parit, dinding tanah yang tinggi dan rumput-rumput bambu yang tumbuh rapat. Kegunaannya adalah sebagai alat pertahanan huta. Di dalam huta terdapat deretan rumah yang dipisahkan oleh halaman sebagai tempat pesta perkawinan, upacara kematian, dan sebagainya. Pada setiap huta juga terdapat lumbung sebagai tempat untuk menyimpan padi, dan juga tempat muda-mudi untuk bersenda gurau. Di setiap huta terdapat balai desa (partukhoan) yaitu berguna sebagai tempat bersidang (musyawarah) yang berada dekat pintu gerbang huta. Ciri khas huta adalah pohon beringin yang selalu ada di depan huta, bagai orang Batak, pohon beringin melambangkan alam semesta.
5) Agama dan sistem religi, mayoritas suku bangsa Batak menganut agama Kristen, Katolik dan Islam. Agama Kristen dan Katolik disiarkan oleh zending dan missie Jerman ke daerah Toba dan Simalungun.
Agama Islam disiarkan oleh orang-orang Minangkabau ke orang Batak Mandailing dan Angkola. Hasilnya, sampai sekarang orang-orang Batak Toba dan Batak Simalungun mayoritas menganut agama Kristen dan Katolik, sementara orang Batak Mandailing dan Angkola mayoritas menganut agama Islam. Religi tradisional suku bangsa Batak dikenal dengan nama permalim atau perbaringin atau pelbegu.
Religi tradisional mereka mengenal Debata (ompung) Mulajadi na Bolon sebagai pencipta alam beserta isinya yang bermukim di atas langit dan mempunyai nama-nama lain sesuai dengan tugas dan tempat kedudukannya. Debata (ompung) Mulajadi na Bolon sebagai penguasa dunia tengah bertempat tinggal di dunia ini dikenal dengan nama Silaon na Bolon. Debata (ompung) Mulajadi na Bolon sebagai penguasa dunia makhluk halus dikenal dengan nama Pane na Bolon.

0 komentar:

Posting Komentar

Artikel Lainnya

.
.
.
The Center Of All Knowledge © 2008 Template by:
SkinCorner