The Center of All Knowledge

Kamis, 18 Februari 2010

Bentuk-Bentuk Air Permukaan dan Air Tanah

Perairan darat dibedakan menjadi dua, yaitu air permukaan dan air tanah. Air permukaan yaitu wilayah perairan yang terdapat dipermukaan bumi, sedangkan air tanah adalah air yang terdapat di dalam tanah. Berikut akan dibahas bentuk-bentuk air permukaan dan air tanah.

1. Air Permukaan
a. Sungai
Sungai adalah air tawar dari sumber alamiah yang mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah dan menuju atau bermuara ke laut, danau atau sungai yang lebih besar. Arus air di bagian hulu sungai (umumnya terletak di daerah pegunungan) biasanya lebih deras dibandingkan dengan arus sungai di bagian hilir. Aliran sungai seringkali berliku-liku karena terjadinya proses pengikisan dan pengendapan di sepanjang sungai.
1) Proses Terjadinya Sungai
Air yang berada di permukaan daratan, baik air hujan, mata air, maupun cairan gletser, akan mengalir melalui sebuah saluran menuju tempat yang lebih rendah. Mula-mula saluran yang dilalui ini relatif sempit dan pendek. Namun, secara proses alamiah aliran ini mengikis daerah-daerah yang dilaluinya. Akibatnya, saluran ini semakin lama semakin lebar dan panjang, dan terbentuklah sungai.
2) Proses Perkembangan Sungai
Perkembangan suatu lembah sungai menunjukkan umur dari sungai tersebut. Umur di sini merupakan umur relatif berdasarkan ketampakan bentuk lembah tersebut yang terjadi dalam beberapa tingkat (stadium). Pada stadium muda pembentukan lembah mulai terjadi dengan tanda-tanda sebagai berikut.
a) Penampang melintang dari lembah berbentuk V, hal ini disebabkan karena daya kikis vertikal yang kuat karena gradien masih besar.
b) Sungai masih banyak mempunyai erosi basis sementara.
c) Memiliki daya angkut aliran air yang terbesar.
d) Lebar bagian bawah lembah sama dengan lebar saluran sungai.
e) Dasar lembah masih belum merata.
Pada stadium dewasa lembah sungai akan memiliki ciri sebagai berikut.
a) Gradien sungai menjadi lebih kecil.
b) Erosi yang berperan penting adalah erosi lateral, sedangkan erosi vertikal praktis sudah tidak terjadi.
c) Pada bagian akhir stadium dewasa sungai sudah mengalami pendataran dasar sungai.
d) Lembah sungai berbentuk U melebar, yang ukuran lebarnya melebihi dalamnya sungai.
e) Pada dasar lembah terdapat dataran banjir (flood plain) dan terdapat kelokan-kelokan sungai (meander).
f) Sudah tidak terdapat erosi dasar sungai, karena dasar lembah sungai sudah merata.
Pada stadium tua sungai memilik ciri-ciri sebagai berikut.
a) Gradien sungai sudah menjadi kecil.
b) Erosi yang berperan adalah erosi lateral dan lembah sungai berbentuk U melebar.
c) Terbentuk dataran banjir.
3) Macam-Macam Sungai
Sungai dibedakan menjadi beberapa macam menurut kriteria-kriteria tertentu sebagai berikut.
a) Berdasarkan Asal atau sumber Airnya
(1) Sungai yang Bersumber dari Mata Air
Sungai semacam ini biasanya terdapat di daerah yang mempunyai curah hujan sepanjang tahun dan alirannya tertutup vegetasi.
(2) Sungai yang Bersumber dari Air Hujan
Sungai hujan yaitu sungai yang airnya bersumber dari air hujan. Sungai di Indonesia pada umumnya termasuk sungai jenis ini, sebab wilayah Indonesia beriklim tropis dan banyak turun hujan.
(3) Sungai Gletser
Sungai gletser yaitu sungai yang sumber airnya berasal dari pencairan es. Sungai jenis ini biasanya hanya terdapat di daerah dengan ketinggian di atas 5.000 m dari permukaan laut.
(4) Sungai Campuran
Sungai campuran yaitu sungai yang sumber airnya berasal dari air hujan dan pencairan es. Contoh sungai campuran di Indonesia adala Sungai Memberamo dan Sungai Digul di Papua.
b) Berdasarkan Letak Aliran Sungai
Berdasarkan letak alirannya, sungai dibedakan menjadi tiga macam, sebagai berikut.
(1) Sungai yang seluruhnya mengalir di permukaan.
(2) Sungai yang seluruhnya mengalir di bawah permukaan tanah, dinamakan sungai di bawah tanah, seperti yang terdapat di daerah kapur (karst).
(3) Sungai yang sebagian alirannya di permukaan dan sebagian lagi di bawah permukaan tanah.
c) Berdasarkan Arah Aliran Airnya
Berdasarkan arah aliran airnya terkait dengan posisi kemiringan perlapisannya dan tektonik adalah sebagai berikut.
(1) Sungai konsekuen adalah sungai yang arah aliran airnya searah dengankemiringan lerengnya.
(2) Sungai subsekuen adalah sungai yang arah aliran airnya tegak lurus dengan sungai konsekuen.
(3) Sungai resekuen adalah sungai yang arah aliran airnya sejajar dengan sungai konsekuen.
(4) Sungai obsekuen adalah sungai arah aliran airnya berlawanan dengan sungai konsekuen.
(5) Sungai anteseden adalah sungai yang kekuatan erosi ke dalamnya mampu mengimbangi pengangkatan daerah yang dilaluinya.
(6) Sungai reverse adalah sungai yang kekuatan erosi ke dalammya tidak mampu mengimbangi pengangkatan daerah yang dilaluinya. Oleh karena itu arah aliran sungai ini berbelok menuju ke tempat lain yang lebih rendah.
(7) Sungai insekuen ialah sungai yang arah aliran airnya tidak mengikuti perlapisan batuan sehingga arahnya tidak menentu. Pola aliran sungai dipengaruhi oleh hal-hal sebagai berikut.
a) Jenis batuan
Jenis batuan ada yang mudah tererosi dan ada yang tidak mudah tererosi. Misalnya batuan sedimen yang mudah tererosi dapat mempengaruhi pola aliran.
b) Proses geologi
Proses-proses geologi dapat merubah pola aliran seperti pengangkatan dan subsidence process.
c) Struktur batuan
Struktur batuan yang dapat mempengaruhi pola aliran adalan patahan dan lipatan.
d) Curah hujan
Curah hujan yang tinggi dapat menyebabkan proses pelapukan dan hal ini dapat mempengaruhi pola aliran sungai.
Ada beberapa pola aliran sungai, antara lain sebagai berikut.
a) Pola dendritik ialah pola aliran sungai yang anak-anak sungainya bermuara pada sungai induk secara tidak teratur. Pola aliran ini terdapat di daerah yang batuannya homogen dan lerengnya tidak begitu terjal.
b) Pola trellis ialah suatu pola aliran sungai yang sungai-sungai induknya hampir sejajar dan anak-anak sungainya. Anak-anak sungai ini hampir membentuk sudut 90° dengan sungai induknya.
c) Pola rectangular ialah suatu pola aliran sungai yang terdapat di daerah yang berstruktur patahan. Pola aliran air membentuk sudut siku-siku.
d) Pola radial sentrifugal ialah suatu pola aliran sungai yang arahnya menyebar. Pola aliran ini terdapat di kerucut gunung berapi atau dome yang berstadium muda, pola alirannya menuruni lereng-lereng pegunungan.
e) Pola radial sentripetal ialah pola aliran sungai yang arah alirannya menuju ke pusat. Pola aliran ini terdapat di daerah-daerah cekungan.
f) Pola paralel ialah pola aliran sungai yang arah alirannya hampir sejajar antara sungai yang satu dengan sungai yang lain. Pola aliran ini terdapat di daerah perbukitan dengan lereng yang terjal.
5) Meander
Meander adalah aliran sungai yang berbelok-belok secara teratur dengan arah pembelokan kurang lebih 180°. Erosi ke samping (lateral) menyebabkan lembah bertambah lebar dan membentuk kelokan-kelokan. Meander terdapat di bagian tengah dan hilir aliran sungai.
Proses pengendapan menghasilkan berbagai bentukan yang terletak di tengah lembah, di bagian dalam meander dan muara sungai. Pengendapan di muara sungai akan membentuk delta pada laut dangkal dengan arus yang tidak terlalu kuat. Bagian sungai yang terpotong merupakan sungai mati atau danau yang melengkung (oxbow lake). Daerah yang sering tergenang air pada waktu banjir dan berupa daratan ketika air surut disebut dataran banjir atau flood plain.
6) Delta
Delta terbentuk akibat pengaruh erosi sungai yang membawa material-material tanah, kemudian mengendapkannya di daerah muara sebagai sedimen.
Secara bertahap sedimen itu membentuk pulau di muara sungai. Lama kelamaan daerah endapan tersebut menjadi sangat luas berupa dataran rendah yang disebut dataran alluvial.
Material batuan yang diangkut oleh sungai akan diendapkan di muara. Jika ketinggian endapan itu telah melampaui ketinggian permukaan air laut atau danau, terbentuklah daratan yang disebut delta. Syarat-syarat terbentuknya suatu delta antara lain:
a) ada sungai yang menuju laut atau danau,
b) tidak ada gerakan tektonik yang menyebabkan penurunan dasar laut atau danau di muara sungai,
c) laut sebagai muara dari sungai relatif dangkal,
d) lemahnya arus pasang surut,
e) gelombang atau arus laut yang ada sangat kecil, serta
f) material batuan yang diendapkan di muara laut atau danau cukup besar.
7) Daerah Aliran Sungai (DAS)
DAS atau daerah aliran sungai adalah sebuah sungai beserta anak-anak sungainya yang ada pada suatu daerah, atau wilayah tampungan air yang masuk ke wilayah air sungai yang lebih besar dan berakhir pada suatu muara. Contoh DAS antara lain DAS Kapuas, DAS Serayu, dan DAS Cimanuk. Suatu daerah aliran sungai bisa dibagi menjadi tiga bagian, yaitu daerah aliran hulu, daerah alur tengah, dan daerah aliran hilir.
Faktor-faktor yang memengaruhi DAS adalah iklim, jenis batuan yang dilalui, dan banyak sedikitnya air yang jatuh ke alur pada waktu hujan. Cepat atau lambatnya air hujan yang terkumpul di alur sangat tergantung pada bentuk lereng DAS. Di dalam wilayah daerah aliran sungai terdapat bentukan alam seperti meander, dataran banjir, dan delta.
8) Keuntungan dan Kerugian Keberadaan Sungai
a) Keuntungan Keberadaan Sungai
Keuntungan dari keberadaan sungai antara lain sebagai berikut.
(1) Sumber air bagi pertanian atau irigasi dan usaha perikanan darat.
(2) Tempat pengembangbiakan dan penangkapan ikan guna memenuhi
kebutuhan manusia akan protein hewani.
(3) Sumber tenaga untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
(4) Tempat rekreasi, misalnya melihat keindahan air terjun dan bendungan.
(5) Untuk kehidupan sehari-hari bagi penduduk yang tinggal di tepi sungai. seperti mencuci, mandi, dan membersihkan perabot rumah tangga.
(6) Tempat berolahraga seperti arung jeram dan dayung.
b) Kerugian Keberadaan Sungai
Selain beberapa manfaat di atas, sungai dapat mendatangkan kerugian bagi kehidupan manusia terutama yang tinggal di sekitar aliran sungai. Kerugian-kerugian itu adalah sebagai berikut.
(1) Sebagai media penyebaran bibit penyakit, seperti kolera, disentri, dan lain-lain. Bibit penyakit disebarkan melalui air apabila air sungai digunakan untuk keperluan hidup sehari-hari.
(2) Dapat menyebabkan polusi air, terutama sungai-sungai yang penuh dengan sampah.
(3) Dapat menimbulkan banjir dan mendatangkan kerugian yang cukup besar bagi manusia.
Berbagai dampak negatif yang telah dikemukakan tadi, sebagian besar disebabkan oleh tindakan manusia sendiri, di samping adanya perubahan kondisi fisik, seperti perubahan curah hujan. Oleh karena itu, pencegahannya harus dilakukan terhadap faktor-faktor fisik dan manusia secara terpadu.
9) Penanggulangan Banjir
Upaya mencegah banjir harus dilakukan secara terpadu di seluruh daerah aliran sungai. Upaya tersebut antara lain sebagai berikut.
a) Upaya penghijauan dan penghutanan kembali wilayah-wilayah yang telah gundul. Upaya ini dilakukan untuk mempertinggi kapasitas peresapan air dan memperkecil kapasitas pengaliran air hujan yang jatuh ke permukaan bumi.
b) Pembuatan teras-teras dan petakan pada lahan miring untuk mencegah terjadinya erosi. Erosi di daerah aliran sungai akan menyebabkan proses sedimentasi di lembah-lembah sungai dan dapat memperdangkal lembah tersebut. Akibatnya air sungai mudah meluap pada musim hujan dan banjir pun terjadi.
c) Pembuatan tanggul-tanggul di pinggir sungai untuk menahan luapan air sungai pada musim hujan.
d) Pembuatan bendungan serbaguna untuk menampung dan memanfaatkan air sepanjang tahun. Air yang disalurkan melalui irigasi akan mengurangi kapasitas air yang mengalir di sungai.
e) Meningkatkan kesadaran masyarakat dalam upaya memelihara lingkungan hidup melalui pendidikan formal, nonformal, maupun melalui media massa.
b. Danau
Danau adalah cekungan yang merupakan genangan air yang sangat luas di daratan. Danau dapat dipandang sebagai tempat penampungan (reservoir) air tawar di darat pada ketinggian tertentu di atas permukaan laut yang bersumber dari mata air, air hujan, sungai, dan gletser.
1) Proses Terjadinya Danau
Berdasarkan terbentuknya danau dapat dibedakan menjadi dua yaitu danau alami dan danau buatan. Klasifikasi danau berdasarkan proses terbentuknya dapat dibedakan menjadi danau alami dan danau buatan.
a) Danau Alami
(1) Danau Tektonik
Danau tektonik adalah danau yang terjadi karena adanya tenaga tektonik yang menyebabkan bentuk permukaan bumi lebih rendah daripada daerah di sekitarnya. Air yang masuk ke tempat itu tergenang dan terjadilah danau. Contoh danau tektonik antara lain Danau Tempe, Towuti, Poso, Tondano (Pulau Sulawesi), Laut Tawar, Maninjau, dan Singkarak (Pulau Sumatra).
(2) Danau Vulkanik
Danau vulkanik adalah danau yang terjadi karena adanya aktivitas gunung api. Daerah bekas letusan gunung, terbentuk cekungan yang kemudian terisi oleh material vulkanik yang tidak tembus air sehingga air hujan yang jatuh di cekungan itu tertampung dan terbentuklah danau vulkanik. Contoh danau vulkanik antara lain Danau Kalimutu (Flores), Segara Anakan (Rinjani), Sarangan, Kawah Ijen, dan Kerinci. Apabila telah terbentuk danau, kemudian vulkan aktif kembali dan aktivitas vulkan ini bersamaan dengan peristiwa tektonik, danau yang terbentuk disebut danau vulkano tektonik.
Contoh danau vulkano tektonik adalah Danau Toba di Sumatra Utara.
(3) Danau Karst
Danau karst adalah danau yang terjadi di daerah karst. Danau ini terjadi karena adanya lapisan yang tidak tembus air menutup dasar dan pipa karst, sehingga air hujan yang jatuh di tempat itu tidak dapat meresap dan terbentuklah danau. Biasanya danau ini kecil dan bersifat temporer. Contohnya danau karst di Pegunungan Sewu, Yogyakarta.
(4) Danau Gletser
Danau gletser adalah danau yang terjadi karena adanya pencairan es. Danau gletser biasanya terdapat di kaki gunung atau pegunungan bersalju, misalnya di pegunungan Jawa Wijaya (Papua) dan Pegunungan Alpen (Swiss).
(5) Danau Tapal Kuda (OxbowLake)
Danau tapal kuda adalah danau yang terbentuk karena meander yang terputus. Danau ini bentuknya seperti tapal kuda atau melengkung.
b) Danau Buatan
Danau buatan juga disebut dengan waduk. Danau bendungan atau waduk adalah adalah danau yang terjadi karena adanya aliran air yang tertimbun baik secara alami maupun buatan manusia. Bendungan yang dibuat oleh manusia sering disebut waduk atau danau buatan. Contoh danau buatan antara lain Jatiluhur, Karangkates, Riamkanan, dan Gajah Mungkur.
2) Manfaat Keberadaan Danau
Danau mempunyai banyak kegunaan antara lain untuk pengairan lahan pertanian (irigasi), pembangkit tenaga listrik, perikanan, rekreasi, olahraga, dan pelayaran. Pemanfaatan seperti tertulis di atas bergantung kepada kondisi yang dimiliki danau atau waduk tersebut. Waduk juga memiliki fungsi menampung kelebihan air, agar tidak menimbulkan banjir di daerah aliran sungai bagian hilir.
3) Upaya Pelestarian Danau
Pelestarian suatu danau dapat ditempuh dengan cara-cara sebagai berikut.
a) Menjaga kelestarian hutan dan penghijauan daerah di sekitar sungai yang menuju ke danau, sehingga material yang dibawa sungai tersebut sangat sedikit.
b) Mencegah masuknya polutan (polutan yang berasal dari pabrik) ke aliran sungai yang menuju danau, sehingga tidak terjadi pencemaran danau.
c) Membina masyarakat agar tidak menggunakan bahan peledak dan racun untuk menangkap ikan di danau.
d) Membina masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai yang mengalir ke danau.
e) Membina masyarakat di sekitar danau agar menjaga kelestarian lingkungan hidup.
c. Rawa
Rawa adalah tanah basah yang sering digenangi air karena letaknya yang relatif rendah. Rawa biasanya ditumbuhi oleh tumbuh-tumbuhan yang batangnya lunak atau rumput-rumputan. Ada dua jenis rawa, yaitu rawa di daerah pedalaman yang berisi air tawar dan rawa yang disebabkan oleh pasang naik dan pasang turun yang berisi air asin. Rawa-rawa banyak terdapat di Pantai Sumatra bagian timur dan Pantai Kalimantan bagian selatan.
Manfaat Rawa
Beberapa manfaat rawa bagi kehidupan antara lain sebagai berikut.
1) Rawa di tepi sungai dapat ditanami padi.
2) Rawa dengan hutan mangrove (bakau, api-api dan sebagainya) dapat menghasilkan kayu untuk berbagai keperluan manusia dan dapat mencegah terjadinya erosi.
3) Rawa pantai dengan nipah dan rumbia dapat dimanfaatkan manusia sebagai bahan pembuatan atap.
4) Beberapa jenis rawa dapat menghasilkan ikan.
5) Daerah rawa dapat juga dijadikan tempat pemukiman dengan rumah-rumah bertiang tinggi, dengan perahu sebagai alat angkutannya.
6) Setelah dikeringkan rawa dapat dijadikan sebagai lahan pertanian tanah kering.
d. Gletser
1) Terjadinya Gletser
Gletser adalah massa besar es yang terbentuk dari penimbunan salju dan bergerak menuju ke bawah akibat gravitasi bumi, sambil menguap ataupun meleleh. Timbunan salju lama kelamaan menjadi sangat tebal, sehingga akan terbentuk lapisan es di atas permukaan bumi. Lapisan es yang tebal menjadi materi yang plastis dan mempunyai gaya gravitasi yang sangat besar, sehingga es tersebut secara perlahan-lahan bergerak menyebar ke daerah yang lebih luas atau turun melalui lereng pegunungan. Massa es yang bergerak itulah yang disebut gletser.
2) Manfaat Gletser
a) Adanya gletser menyebabkan terbentuknya danau-danau glasial seperti di lereng pegunungan Alpen dan di Amerika Utara.
b) Adanya gletser menyebabkan terbentuknya pantai fyord sebagai hasil erosi glasial. Seperti di Norwegia pantai fyord digunakan untuk tempat berlindung perahu dan kapal pada waktu badai dan merupakan tempat penangkapan ikan yang aman.
c) Sebagai tempat penelitian ahli glasiologi.
d) Daerah padang salju merupakan tempat berolah raga musim dingin (ski).
e) Sebagai sumber air bagi sungai di bawahnya.
f) Daerah yang tertutup es daratan dapat menyebabkan lahirnya kebudayaan yang khas, misalnya budaya Eskimo dengan rumah iglo, dan alat transportasi slide yang ditarik anjing.

2. Air Tanah
Air tanah adalah air yang terdapat atau tersimpan di dalam tanah. Air tanah berasal dari air hujan, laut, atau magma.
a. Asal Air Tanah
Air tanah berasal dari air hujan yang meresap melalui berbagai media peresapan, antara lain sebagai berikut.
1) Rongga-rongga dalam tanah akibat pencairan berbagai kristal yang membeku pada musim dingin.
2) Rongga-rongga dalam tanah yang dibuat binatang (cacing dan rayap).
3) Retakan-retakan pada lapisan tanah yang terjadi pada musim kemarau, dan pada waktu musim hujan menjadi sangat basah dan becek, seperti tanah liat dan lumpur.
4) Pori-pori tanah yang gembur atau berstruktur lemah akan meresapkan air lebih banyak daripada tanah yang pejal.
5) Rongga-rongga akibat robohnya tumbuh-tumbuhan yang berakar besar.
b. Kedalaman Air Tanah
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perbedaan kedalaman air tanah adalah sebagai berikut.
1) Permeabilitas Tanah
Permeabilitas tanah adalah tingkat kemampuan lapisan batuan atau kemampuan tanah dalam menyerap air. Hal ini ditentukan oleh besar kecilnya pori-pori batuan penyusun tanah. Semakin besar pori-pori batuan, semakin banyak air yang dapat diserap oleh tanah tersebut. Lapisan batuan yang tidak dapat ditembus air disebut lapisan kedap air atau impermeable dan yang dapat ditembus air disebut lapisan lolos air atau permeable.
2) Kemiringan Lereng
Kemiringan lereng atau topografi curam menyebabkan air yang lewat sangat cepat sehingga air yang meresap sangat sedikit.
c. Macam-Macam Air Tanah
1) Air Bawah tanah
Air bawah tanah adalah air yang berada di bawah permukaan tanah yang tidak kedap air (preatis) dan air tanah dalam yang kedap air (artesis). Contoh air preatis adalah air sumur.
2) Geiser
Geiser adalah mata air dari dalam tanah yang menyemburkan uap dan air panas ke atas pada waktu-waktu tertentu. Pemanasan air ini berasal dari dalam bumi. Air tanah yang mencapai daerah panas bumi akan berubah menjadi uap air, karena uap air mempunyai kekuatan yang berupa tekanan, maka jika tekanannya sudah cukup tinggi, akan menyembur lepas ke permukaan bumi, jika persediaan air tanah dan panas buminya sudah habis, maka geiser akan berhenti.
Geiser banyak terdapat di Eslandia, Selandia Baru dan Taman nasional Yellowstone, USA. Di Indonesia juga ada sumber-sumber air yang memancarkan air panas ke permukaan bumi, misalnya di Cisolok dekat Pelabuhan Ratu (Jawa Barat) dan di Kuwu, Purwodadi (Jawa Tengah).
3) Travertin
Travertin adalah endapan kalsium karbonat (CaCo3) yang dihasilkan oleh mata air. Pada umumnya mata air travertin mengandung gamping. Contoh travertin di Indonesia terdapat di Pegunungan seribu Jawa Tengah dan Ciater Jawa Barat.
4) Sungai Bawah Tanah
Air hujan yang masuk ke dalam tanah melalui lubang-lubang dan mengalir di bawah permukaan tanah di daerah kapur (karst) di sebut sungai bawah tanah. Sungai-sungai ini mengalir dan bermuara di laut.
d. Manfaat Air Tanah
Manfaat air tanah bagi kehidupan, antara lain:
1) merupakan bagian yang penting dalam siklus hidrologi,
2) menyediakan kebutuhan air bagi hewan dan tumbuh-tumbuhan,
3) merupakan persediaan air bersih secara alami,
4) untuk keperluan hidup manusia antara lain minum, memasak, dan mencuci,
5) untuk keperluan industri, misalnya industri tekstil dan industri farmasi, dan
6) untuk irigasi pada sektor pertanian.
e. Pelestarian Air tanah
Untuk menjaga agar kelestarian air tanah tetap terjamin, maka perlu diperhatikan hal-hal berikut ini.
1) Mencegah penggunaan air tanah berlebi- han.
2) Mencegah terjadinya ledakan penduduk dan permukiman yang berlebihan karena berkaitan dengan membesarnya konsumsi air tanah.
3) Pemanfaatan air tanah (tawar) di daerah pantai harus menaati peraturan yang ditetapkan pemerintah.
4) Mencegah terjadinya perusakan hutan agar tidak menimbulkan ketimpangan tata air.
5) Konversi atau perubahan penggunaan lahan dalam suatu daerah aliran sungai harus diperhitungkan dampak dan manfaatnya.
6) Memperketat pelaksanaan analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) khususnya terhadap air tanah.
7) Membuat sumur resapan.

0 komentar:

Posting Komentar

Artikel Lainnya

.
.
.
The Center Of All Knowledge © 2008 Template by:
SkinCorner